Kecenderungan VS Prediksi
Market hanya bergerak ke dua arah saja, kalau tidak naik ya turun, ada juga yang bilang market bergerak sideways (trendless) atau bergerak ke kanan. Open posisi hanya ada 2 pilihan, buy atau sell, ada yang bilang, tidak mengambil posisi berarti sebuah posisi juga.
Kesimpulannya market hanya bergerak naik turun, dan chance kita dari awal sudah 50:50 untuk menang, jadi kenapa trading menjadi begitu sulit???
Hal ini dikarenakan begitu banyaknya pemain dan persepsi yang cenderung mengakibatkan efek spekulasi bercampur menjadi satu di pasar. Bayangkan jika peserta di dunia trading forex kita tercinta ini hanya 2 orang, tentu sangat mudah menebak arah pergerakannya.
Bicara soal menebak (prediksi), di dunia trading ibaratnya kita mencoba meramal masa depan yang tercermin dalam posisi yang kita ambil. Hal ini mengakibatkan terbentuknya sebuah pola pikir yang sedemikian rupa sehingga kita menjadi tidak siap terhadap perubahan yang terjadi.
Serupa tapi tak sama, untuk menjembatani "the missing link" untuk mengantisipasi perubahan, kita mendapati pada kata kecenderungan (condong). Kecenderungan lebih melihat dalam gambaran lebih besar (outlook) dengan persiapan menghadapi segala kemungkinan akan perubahan. Singkat kata, kecenderungan membuat seorang trader seakan lebih bijaksana dalam mengeksekusi sebuah posisi.
Contoh, trader A memprediksikan harga USDJPY di atas 100.00 sehingga di harga berapapun dia tertarik untuk open buy terus menerus selama harga masih di bawah 100.00 tadi. Coba bandingkan dengan trader B, yang lebih melihat dengan gambaran besar dan mengadopsi kecenderungan, trader B juga "condong" untuk open buy namun lebih siap akan perubahan jika harga kembali jatuh lebih dalam yang diakibatkan perubahan situasi ekonomi global. Disini kita melihat adanya perbedaan dalam menyikapi situasi yang sama.
Akhir kata, ketika kita lebih condong untuk bullish atau bearish terhadap suatu currency pair, kita membutuhkan kemampuan untuk entry dan entry di saat yang tepat.

0 comments:
Post a Comment